Syamsuddin Simmau
Pak
Uding termangu. Matanya menerawang. Sesekali lelaki berusia 65 tahun itu
mendesah. Bukan lantaran menghabiskan tiga bungkus rokok setiap hari. Tapi
dadanya memang begemuruh. Ada yang mengganjal. Pikirannya kusut. Matanya merah.
Sudah tiga hari ia tak bisa memejamkan mata.
Bagaimana
tidak, pernikahan anak semata wayangnya dibatalkan secara sepihak. “Lelaki
bangsat !” geramnya. Lagi-lagi Pak Uding membuang napas panjangnya. Jemari
tuanya bergetar.