Wednesday, October 13, 2010

Lembaga Informasi dan Pengembangan Kebudayaan (LIPa)

LIPa Gelar Festival Badik Nusantara


Lembaga Informasi dan Pengembangan Kebudayaan (LIPa) telah memprogramkan pelaksanaan Festival Badik Nusantara. Direktur LIPa, Andi Apti Aspriandi, ST saat melakukan rapat koordinasi di sekretarai LIPa, BTN Hamzy Blok Q1 no.4 Makassar,mengatakan, Badik adalah artefak kebudayaan Bugis yang patut mendapat apresiasi dari semuakalangan. Karena selama ini,kata Pendiri Perguruan Pencak Revolusi Jiwa tersebut, masyarakat banyak yang salah kaprah terhadap fungsi badik. Kebanyakan rang menilai bahwa badik sekedar senjata tajam yang diperguanakan untuk berkelahi. Padahal jauh dibalik anggapan itu, badik memiliki nilai yang lebih dalam.

Pada dasarnya, jelas Andi Apti, badik diciptakan sebagai lambang kehormatan, bukan alat untuk membunuh. Karena itulah, ada jenis badik yang khusus diciptakan untuk bercocok tanam, badik untuk pembesar sebagai simbol kewibawaan, badik untuk pernikahan, badik untuk perdagangan, dan memang juga ada badik untuk berperang demi mempertahankan kehormatan dan martabat Bangsa Bugis.

Meski demikian, beragam persepsi masyarakat tentang badik itu dinilai sebaga hal yang wajar karena sebagian masyarakat memang belum memahami nilai-nilai di balik keberadaan badik. Karena itulah, perlu dilakukan festival Badik Nusantara untuk merekonstruksi makna dan nilai-nilai badik sebagai artefak kebudayaan Bangsa Bugis. (*)

Saturday, September 25, 2010

Pelatihan Film dan Peran

Seru, LeMPA Segera Gelar Pelatihan Actng

Lembaga Edukasi Multikultur dan Penerbitan Alternatif (LeMPA)segera menggelar pelatihan (training) akting untuk film. Pelatihan akting ini akan dilakasanakan dari Jumat, 28 Oktober sampai Minggu, 30 Oktober 2010 di Gedung LET Training Center & Cafe, Jl. Abdullah Dg. Sirua nomor 123 C, telepon (0411) 298 2100.

LeMPA adalah lembaga yang dinilai memiliki kapabilitas dan kapasitas untuk menggelar pelatihan ini. pasalnya, Lembaga ini telah berpengalaman dalam menggarap produksi film dan acting. Selain itu, lembaga yang ini telah bekerja sama dengan lembaga dunia seperti Global Fund for Women-Amerika, Cordaid-Belanda atas dukungan LBH-P2i Makassar untuk memproduksi 4 film advokasi, masing-masing; Aku Perempuan Namaku Derita (Global Fund-LBH-P2i), Seroja (Cordaid-LBHP2i), Refleksi (Cordaid-LBH.P2i) dan Bintang di Atas Butung (Cordaid-LBH.P2i). Seluruh film tersebut disutradarai Syamsuddin Simmau.

Menariknya, pelatihan akting ini dilatih langsung oleh Syamsuddin Simmau selain pemateri handal lainnya dengan metode yang praktis dan aplikatif.

Agar pelatihan mencapai hasil yang maksimal, peserta pelatihan ini dibatasi 20 orang peserta saja per angkatan. Dengan demikian, setiap peserta bisa langsung menjadi aktor atau artis film yang berkualitas. Hal ini penting dilakukan agar perfilman di Makassar kembali bangkit.

Soal biaya bukan masalah. Karena biaya pelatihan hanya Rp. 400.000 selama 3 hari, sudah termasuk makan siang, snack,sertifikat, dan materi pelatihan. Namun ada discount khusus bagi 10 pendaftar pertama. Bagi 10 pendaftar pertama hanyadikenakan biaya Rp.300.000 saja.

Keunggulan Pelatihan ini adalah setiap peserta langsung direkrut untuk bermain dalam film pendek yang segera diproduksi LeMPA bersama salah satu stasiun TV lokal di Makassar.

Discount khusus untuk 10 peserta pertama hanya berlaku sampai tanggal 7 Oktober 2010. Untuk formasi selanjutnya silahkan hubungi email; masasukses@gmail.com atau tlpn. (0411) 298 2100 atau hp: 0852 557 606 63. Atau hubungi Soraya di Kantor LeMPA Jl. Abdullah Dg. Sirua nomor 123 C Makassar. Buruan.(*)

Thursday, July 29, 2010

Berita

Alternative Space

Makassar, 29 Juli 2010
Angin masih berhembus seperti biasa. Ia membawa udara panas, gersang. Namun kegersangan ini berlalu dengan cepat ketika sekitar pukul 16 Wita, Seniman, kurator dan praktisi seni, Firman Djamil berkunung ke LET Training Center & Cafe di Jl. Abd.Dg.Sirua nomor 123 Makassar --tempat kami biasa berbagi gagasan--tentang kemanusia, seni dan berbagai hal.

Selain Firman Djamil dan saya, hadir pada sharing ini, Presiden Direktur PT LET Sukses International, Armawansyah, Pekerja Seni, Pengacara dan Aktifis NGO, Ibrahim Massidenreng, Musisi, Suhud dan Desiner Grafis, Chandra.

Perhalatan "inspiratif" ini menuju ke satu arah bahwa Makassar membutuhkan alternative space untuk mengawal Makassar sebagai salah satu kota dunia.

Sungguh, sharing ini telah memberi "energi baru" bagi strategi kebudayaan masyarakat Makassar ke depan.

Laporan
Syamsuddin Simmau

Wednesday, May 19, 2010

Mengenal Saya

Biodata

Nama Lengkap    : Syamsuddin Simmau, SS
Tempat Tgl.Lahir : Pinrang, Sulsel, 18 Januari
Alamat                : Jln. Aroepala BIN Minasa Upa Blok AB 16 no 1 A Makassar
Pekerjaan            : Direktur Penerbit MASA, Penulis, Trainer Menulis Cepat dan Dahsyat dengan PWT,
                             Tenaga Edukasi di Universitas Islam Makassa,Trainer Belajar Cepat English 
                             Conversation dengan Metode Install, Trainer Produksi Film Pendek, Sekretaris Yayasan
                             BINA GENERASI di Kota Makassar, 2012-sekarang
Pendidikan          : S-1 (Sastra Inggris), Menyelesaikan ProgramMagister Sosiologi Universitas Hasanuddin
                            (S2) tahun 2012
Hobby : Menulis, berkesenian,meneliti, fotografi
e-mail : syamsuddinsimmau74@gmail.com dan masasukses@gmail.com

Pengalaman Kerja :
1. Redaktur Budaya Tabloid Fitrah-UMI 1991-1996
2. Wartawan Majalah Mingguan SEMANGAT BARU 1995 -1996
3. Wartawan Marian Fajar Makassar 1996
4. Freelance Tourist Guide Tingkat Madya tahun 1995-2000
5. Reporter Radio SPFM Makassar 1999-2004
6. Redaktur Majalah SINERGI (Majalah Pemerintah Provinsi Sulsel) 2003-2004
7. Wartawan Tabloid Anti Korupsi SATU INDONESIA (Kerja sama Partnership-Yayasan Satu Indonesia
    Makassar), 2004-2005
8. Redaktur Pelaksana Tabloid TRANS AKSI Bone, 2006-2007
9. Kontributor Kantor Berita Radio 68H Jakarta melalui radio SPFM Makassar 2001-2003
11. Redaktur Majalah SIKAP LBH.P2i-CORDAID 2008-2009


Pengalaman Kerja di Non Government Organization (NGO)
1. Direktur Eksekutif Komunitas Rumah Panggung (Lembaga Studi Budaya dan Pariwisata) di Makassar,
    2001-2004
2. Direktur Lembaga Edukasi Multikultur dan Penerbitan Alternatif (LeMPA) Makassar 2007 sampai
    sekarang
3. Koordinator Program Penguatan Parlemen dan Institusi Lokal KOPEL Sulawesi untuk kota Makassar,
    2005
4. Tenaga Monitoring FNS Jerman pada Program Kampanye 2004 di Makassar pada siaran Kampanye
    RRI Nusantara IV Makassar
5. Pernah Menjadi Volunteer Lembaga Investigasi Studi Media dan Anak (Lisan) Makassar, 2005-2006
6. Filed Officer Lembaga Bantuan Hukum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (LBHP2i) Makassar,  
    Janurai 2006- Januari 2008
7. Koordinator Pemantau Pilkada Maros LSKP Makassar, 2005
8. CO LBH.P2i Makassar, Agustus 2007-2009 untuk program interfaith program penguatan kelompok
    perempuan.
9. Menjadi Service Provider Local Governance Support Program LGSP-USAID Sulsel Mei 2008 sampai
    Juni 2009

Pelatihan:
1. Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar dan Menengah di UMI Makassar 1993
2. Pelatihan Jumalistik Tingkat Pembina/mahir di UNIKA Parahyangan, Bandung 1995
3. Pelatihan Jumalistik Radio, FNS- RADIO DW Jerman di Makassar 2000
4. Pelatihan Jurnalistik Radio Dasar UNESCO di Makassar 2000
5. Pelatihan Jurnalistik Radio Lanjutan UNESCO di Makassar 2000
6. Pelatihan Penulisan Feature Radio UNESCO di Makassar 2001
7. Pelatihan Jumalisme Investigative UNESCO di Makassar 2001.
8. Pelatihan Jurnalime Invetigatif & produksi Feature Radio UNESCO Lanjutan di Jakarta 2002.
9. Pelatihan Training of Trainers (TOT) Journalist Radio UNESCO di Makassar 2003
10. Pelatihan Training of Trainers Pendamping dan Fasilitator untuk Penguatan Parlemen dan Institusi Lokal
      KOPEL Sulawesi di Malino Sulsel Februari 2005

Aktifitas Sekarang:
1. Membina komunitas seni Komunitas Rumah Panggung di Makassar.
2. Menulis di Media-Media lokal di Makassar
3. Memimpin Lembaga Edukasi Media dan Publikasi Alternatif (LeMPA)
4. Pelatih untuk Publikasi Media Alternatif
5. Menulis buku-buku Anak dan Kisah lokal
6. Sharing pengetahuan tentang menulis
7. Belajar menjadi editor buku.
8. Memimpin Penerbit Maupa Masagena (MASA) Makassar.
9. Melatih dan memfasilitasi Sanggar Seni Rumah Kita-SKW-YAPTA U di TPAS Tamangapa Makassar
10. Melatih dan memfasilitasi pelatihan menulis dengan pendekatan PWT
11. Melatih produksi film pendek untuk anak


Prestasi:
1. Juara II Lomba Feature Radio (Tim SPFM) se Indonesia Friedrik Naumang Sifting (FNS) Jakarta, tahun
    2000.
2. Penghargaan sebagai Reporter Terbaik se Indonesia untuk Jaringan Radio Lokal untuk Demokrasi
    (JRLD) oleh UNESCO Jakarta, tahun 2002.
3. Menemukan Participative Writing Training Approach, 2008
4. Mengembangkan metode pembelajaran Bahasa Inggris dengan sistem perkampungan (camp) atau  
    boarding, 2005
5. Memfasilitasi Pendirian Lembaga Kursus Bahasa Inggeris LONDON VILLAGE, dan Britania di
    Makassar.
6. Mendirikan Lembaga Kursus Bahasa Inggris Britania
7. Penemu Metode Belajar Menulis Cepat PARTICIPATIVE WRITING TRAINING
8. PENEMU METODE INSTAL, CERA PALING REVOLUSIONER DAN HANYA 
    SATU-SATUNYA DI DUNIA untuk English Conversation.


Karya Buku:
1. Kumpulan Puisi MURKA !, Yayasan kebudayaan Padaidi Makassar, 1996
2. Ontologi Puisi bersama ININNAWA, Masyarakat Sastra Tamalanrea (MST) Makassar, 1997
3. Bumi Impian, SMPM Press Makassar, 2000
4. CERITA RAKYAT TANA TORAJA, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Sulsel, 2005.
5. CERITA RAKYAT BUGIS, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Sulsel, 2005
6. CERITA RAKYAT MAKASSAR, Dinas Pendidikan Kota Makassar bekerja sama dengan CV.
    PELANGI MAKASSAR GROUP, 2006.
7. Kumpulan Kisah Pilihan (seri cerita rakyat Susel), MASA, 2007.
8. Kisah Pilihan Negeri Bugis 2008,
9. Kisah Negeri Lepongan Bulan, 2008
10. Menerbitkan Buku dari Kampung
11. Kumpulan Cerpen Diplomat Ranjang, 2009
12. Join Writer (contributor) buku sukses story LGSP- Training and Publication NO Jakarta, dalam proses
      penerbitan di Jakarta 2009.
13. Kumpulan Puisi Air Mata Angin, 2009 (dalam proses penerbitan)
14. Tim Penulis Jejak Langkah Perubahan diterbitkan AUSAid-LGSP, 2009

Karya Lagu:
1. Memfasilitas Pembentukan dan menulis lirik lagu-lagu lingkungan untuk The SAO, telah melahirkan
    sebuah album.
2. Telah menulis 9 lagu anak-anak

Karya Teater:
1. Telah mementaskan serial teater rakyat Karaeng Tojeng untuk kampanye Anti Korupsi di Makassar dan Gowa prov. Sulsel enam judul, sebagai penulis naskah dan sutradara, 2002, bekerja sama dengan Partnership for Governance Reform in Indonesia.
2. KARAENG TOJENG TEMUKAN CINTA (penulis skenario dan sutradara), Dipentaskan di Fort Rotterdam Makassar dalam rangka memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan se dunia di Makassar, dipentaskan atas dukungan LBHP2i Makassar dan Global Fund For Women, 2002
3. Penulis Naskah Teater Komedi Tragedi KETIKA CINTA MEMAKSA (penulis naskah), dipentaskan di Sekolah Tinggi Teologi INTIM Makassar, 2004
4. Penulis dan Sutradara, EMON UNJUK GIGI, teater anak-anak, dipentaskan pada acara lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulsel bekerja sama Unicef Makassar, 2004
5. Penulis Naskah Teater, SKETSA SILARIANG, dipentaskan di gedung MULO Makassar, atas kerja sama Koalisi Perempuan Indonesia untuk Demokrasi dan Keadilan (KPI) Wilayah Sulsel bersama The Asia Foundation (TAF), 2005
6. Penulis Naskah Teater ELEGI PEREMPUAN, dipentaskan di jalan Cenderawasih Makassar, dalam rangka memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan, atas dukungan LBHP2S Makassar bersama The Global Fund For Women, 2005
7. Penulis Naskah dan Konseptor Pertunjukan Teater Rakyat PAENTENGI SIRI'NA BAINEA (Angkat Harga Din Perempuan) dipentaskan di lapangan Limbung Kab. Gowa, Prop. Sulsel, tahun 2006 bekerja sama dengan LBHP2i Makassar dan Global Fund For Women.
8. Menyutradarai Teater Anak “Hentikan Pekerja Anak” bersama Sanggar Seni Rumah Kita Tamangapa-Antang pada peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak di Makassar yang dilaksanakan LPA Sulsel dan ILO


Karya Film :
1. Sutrada dan Penulis Skenario Film Independen AKU PEREMPUAN, NAMAKU OERITA (diadaptasi 
   dari kisah nyata di Kab, Maros, prov. Sulsel), diproduksi dalam bentuk CD untuk kampanye anti
    kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Film ini didukung oleh LBHP2i Makassar bersama
    CORDAID,   2006.
2. Sutradara dan Penulis scenario film SEROJA. Film ini adalah film kampanye dan advokasi terhadap
     women trafficking yang diadaptasi dari kisah nyata di Makassar.
3. Sutradara dan Penulis skenario film feature Refklesi Harmoni produksi LBHP2i atas dukungan
    CORDAID.
4. Sutradara dan penulis skenario film advokasi interfaith LBH.P2i-Cordaid berjudul Bintang di Atas  
     Butung, 2009-2010
5. Membantu produksi dokumentasi program ILO IPECS-:LPA Sulsel dan YAPTA-U program  
    Pendidikan Terpadu  untuk Pengahpuasn Bentuk-Bentuk Pekerjaan terburuk bagi Anak di Tempat
    Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Tamangapa Kota Makassar

Demikian Riwayat Hidup ini dibuat dengan sebenarnya.



Makassar, 19 Mei 2013



Syamsuddin Simmau

Sunday, November 15, 2009

Puisi

Doa Seorang Penulis Fana

Syamsuddin Simmau


Wahai Tuhan yang Maha Menulis tanda kebesaranNya

Sungguh Engkaulah Maha Berilmu

Engkaulah Maha Kasih

Tak kuasalah hamba Menulis jika Engkau tak mengizinkan

Sekiranya Engkau Ridha maka kuatkanlah hamba untuk menulis

dengan ikhlas dan penuh cinta

Jadikanlah tulisan hamba membuat hamba bahagia

Membuat Keluarga hamba bahagia

Membuat sahabat hamba bahagia

Sekiranya Engkau Ridha maka jadikanlah tulisan hamba

menjadi tulisan yang membahagiakan hambaMu yang lain.

Wahai Zat yang Ilmunya Meliputi Segala Sesuatu

Sekiranya Engkau Berkenan maka perkenankanlah hamba menikmati pancaran

Cahaya IlmuMu Yang Maha Agung

Amin

Amin

Amin ....

Wasuponda, 13 Nop.2009

Pelatihan Menulis dengan Metode Participative Writing Training (PWT)


Participative Writing Training di Wasuponda, Dahsyat Saya Menunggu Tulisan Teman-Teman

Participative Writing Training (PWT) di Wasuponda yang berlangsung dari tanggal 10 sampai 13 Nopember 2009 sungguh menyenangkan. Saya mendapatkan energi baru dari Wasuponda. Bagaimana tidak, Lembaga Pelita Desa yang dimotori Pak Norman memberi fasilitas yang sangat luar biasa. Selain itu, teman-teman peserta yang merupakan tenaga fasilitator tangguh dari empat kecamatan dampingan community development PT. INCO sangat bersemangat. Mereka adalah fasilitator pengembangan masyarakat yang memapu menulis dengan baik. Sebagai penemu dan trainer PWT, saya yakin teman-teman di Wasuponda, Malili, Towuti dan Nuha segera mengimplementasikan pengalaman baru mereka setelah aktif dan penuh semangat mengikuti PWT ini.

Sebagai tindak lanjut dari PWT, teman-teman peserta terus membangun komunikasi dengan saya tentang berbagai hal yang berhubungan dengan masalah kepenulisan. Kami sepakat untuk berkomunikasi sekali seminggu agar kegiatan menulis teman-teman menjadi kebiasaan. Bahkan, mereka akan menjadikan menulis sebagai bagian dari hidup mereka. Karena dengan menuliskan pengalaman interaksi teman-teman bersama masyarakat maka akan lahir pengetahuan baru -- yang tentu saja menjadi cahaya -- bagi teman-teman, masyarakat dan orang banyak. Sungguh menulis adalah sebuah keniscayaan, sebagaimana keniscayaan Danau Matano yang terus memberikan kesejukan.

Ada beberapa tokoh dibalik sukses PWT ini, mereka antara lain: Kak Abdul Rasyid Idris, Pak Norman, Pak Ikhman, Pak Ikhsan (Pak Coy), Pak Bagas, Pak Syawal, Pak Miftah dan tentu saja Divisi Eksternal Relation PT Inco yang terus menerus, tiada henti memberi support bagi pelaksanaan PWT.

Tentu saja, selain tokoh dan lembaga tersebut di atas, teman-teman peserta adalah PWT adalah kunci utama keberhasilan training ini. Meskipun mereka telah mengikuti PWT dengan serius namun jika teman-teman tidak menulis itu sama saja dengan TKC (maaf, singkatan ini hanya diketahui oleh alumni PWT). Karena itu, saya membuka diri dan setia mengedit serta berbagi dengan teman-teman alumni PWT soal menulis.

Akhirnya, dari lubuk hati yang dalam saya menghaturkan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada teman-teman yang telah memberi dukungan atas suksesnya PWT di "Negeri Nanas yang Tumbuh di atas Batu". Isi hati dan pikiran saya jelas tercantum dalam Doa Seorang Penulis Fana.

Teman-teman, terimakasih untuk semuanya. Tanpa Anda, saya tidak berarti.

Friday, July 31, 2009

Kumpulan Cerita Pendek

LELAKI BOLEH MENANGIS

Cerpen Syamsuddin Simmau





Laut di lepas Pantai Losari masih saja bergemuruh. Berita tsunami masih saja menebar kengerian. Segala derita juga masih tergambar di tv-tv. Pemerkosaan Sinta yang dilakukan Rahwana juga masih saja memekakan gendang telinga. Sementara I Lagaligo juga masih saja asyik mencabuli istri orang, seperti bapaknya yang juga senang melanggar pamali. Lalu semuanya menjelma sunami.



Lelaki Mimit terjaga. Matanya awas. Mengapa angin dalam dadanya masih saja membadai. Mengapa air masih saja menetes dari pinggir kedua matanya. Lalu mengapa segala kengerian menjelma sakit di ulu hati ketika ia menatap seorang perempuan di depannya.




Lelaki Mimit mencoba menahan angin membadai itu. Tapi sekali lagi ia terpaksa membuka lembar demi lembar mantra songkabala agar air matanya tak mengalir lagi. Dan segalanya kembali seperti semula. Seperti ketika Batara Guru menjelma mani dan menetas di bamboo kuning. Juga seperti We Nyilik Timo yang menjelma ranum segala birahi, bibir selalu basah dengan rambutnya yang menguntai kerinduan segala perkasa lelaki.

Ah, lelaki Mimit masih saja mencari mantra Songkabala. Sesekali ia membaca serpihan mantra dengan bibir gemetar. Air dari kedua belah matanya semakin deras mengalir. “Wahai air mata berhentilah mengalir. Menjelmalah bubung segala rindu di Botinglangi. Agar kemarau dihati menjelma kuncup segala bunga. Menjelmalah danau di Boriliu agar gelisah tak berkisah kepedihan.” Jerit Lekai Mimit membatin karena lidah lelaki membantu.



Air mata itu masih saja mengalir. Karena tak ditemukan mantra penahan air mata lelaki. Lelaki Mimit tahu hanya air mata perempuan yang dapat terbendung janji. Seperti Sawerigading yang sering mengumbar janji untuk perempuannya.





Lembar demi lembar mantara songkabala telah usai dibaca. Tak ada mantra bendung air mata lelaki. Karena Patotoe—yang menentukan nasib—katanya tak memberi air mata pada lelaki. Tapi kenyataannya air mata lelaki Mimit masih saja menganak sungai menuju Sungai Mare di perbatasan Cina.





Tak ada mantra yang mampu membendung air mata lelaki. Tapi Lelaki Mimit itu mengetahui sumber air matanya. Ternyata air mata yang menjelma hujan asin itu berasal dari perempuan Andi Inre.





Lelaki Mimit tak kuasa menahan gelisah. Angin di dadanya masih saja membadai. Ingin rasanya ia menjelma I La Galigo yang memaksa lelaki lain meninggalkan istrinya. Agar Inre tahu, segala ininnawa yang telah menjelma badai di dadanya itu adalah jelmaan dari segala embun yang terdampar di dedaunan pagi.





“Andi Inre,” Lelaki Mimit menggumam laksana gemuruh di sela badai. Aku bukanlah Sawerigading yang menikahi I We Cudai dengan paksa. Lalu menikam rekan sendiri untuk sepenggal harum dari belahan dadamu. Engkaulah yang berkata, aku tak pantas menjelma di batinmu. Karena aku tak tega menebang pohon cinta I La Walenreng. Aku tak tega menjelma mentari jika hanya untuk mengumpulkan segala nestapa dan harta. Aku hanyalah Orowane Sukku Pappoji—lelaki segala pencinta untuk jiwamu yang ranum. Untuk matamu yang membulan. Untuk candamu yang mengicau. Untuk napasmu yang menyepoi. Untuk leher jenjangmu yang meruas. Untuk kulit putihmu yang memega di segala pagi. Untuk hatimu yang mendanau. Untuk harummu yang membelai.

Andi Inre. Akulah Orowane sukku papoji itu. Yang menatapmu walau dengan mata terpejam. Yang membelaimu walau dengan tangan tak bergerak. Yang memujimu laksana Sawerigading yang mabuk cinta pada We Tenriabeng. Engkaulah yang membuatku mabuk walau tak meneguk tuak, Andi Inre.




Tapi deras air mengalir dari kedua belah mataku ini adalah air yang bersumber dari jiwaku yang menangung segala perih. Jiwa yang engkau tutup segala mendung. Jiwa yang engkau tikam dengan tangkai bamboo kuning. Jiwa yang engkau himpit dengan dua gunung berbatu hitam di Senrijawa. Jiwa yang engkau panggang dengan segala panas di pusar bumi. Jiwa yang engkau hianati dengan penghianatan yang nyata. Dengan penghianatan yang menjelma badai. Dengan penghianatan We Cudai pada tunangannya demi menyambut si brengsek Sawerigading.





Padahal Andi Inre-ku. Telah kujelmakan padang ilalang jadi taman segala bunga. Telah kujelmakan air secawan jadi danau. Telah kujelmakan batu hitam Gunung Senrijawa jadi dipan berlapis awan putih tempatmu melepaskan penat. Segalanya telah siap untukmu. Sungguh.





Tapi Andi. Air mata ini bersumber dari mu. Dari luka yang telah kau torehkan. Dari luka yang takkan terhapus hujan semusim. Ini luka telah menjelma badai.





Lelaki Mimit mengela napas dalam. Ia terbayang Ira, Mutiah, Elisa, dan Nisma yang tanpa ragu telah membuka lembar-lembar harinya agar kisah kasmaran Sawerigading dan I We Tenriabeng tertulis nyata. Tapi lelaki sukku pappoji itu bergeming. Karena hatinya, jiwanya, cinna ininnawa-nya telah menjelma tuak tana Cina—yang memabukkan walau tak diteguk—yang menjelmakan kesadaran jadi lupa.





Ira datang dengan tangan terbuka. Dari bibirnya tecium aroma bunga rosi. Rambut hitam panjangnya bergerai bagai bunga alosi. Hidung bulo silappana mangir. Walau lehernya tak beruas, tapi air mengalir dari kerongkongannya tampak ketika ia melepas dahaga. Ira Pakati nama lengkapnya. Perempuan bukan sembarang perempuan. Perempuan dengan mata bettoeng. Perempuan berhati lapang.





Mutiah Cut Tari, adalah perempuan peranakan. Campuran Arab dan Melayu. Kulitnya langsat ranum. Bibirnya merah delima. Rambutnya tergerai sebahu. Alis matanya rapi laksana semut hitam yang berjejer. Ia perempuan berhati danau, hati selalu sejuk. Hati yang tak lelah menampung keluh kesah.





Elisa Rahmadin, perempuan bertubuh sintal. Padat. Sedikit berkulit hitam. Tapi manisnya lebih manis dari gula sari enau. Tatap matanya laksana terpaan embun yang merapat disubuh hari. Tak pernah ada api dari sorot matanya. Ia perempuan mabitti balana. Dialah dermaga terbaik bagi pelaut yang gantung jangkar.

Nisma Asrianti, perempuan berhati kicau burung di pagi hari. Tak ada derita, tak ada duka, tak ada mendung apalagi badai. Hidup baginya adalah keceriahan. Ia perempuan pelipur segalah lara. Ia tempat berlutut bagi para gelisah, menghapus segala duka.




Tapi bagi lelaki Mimit, Andi Inre adalah jelmaan segala keindahan. Hanya dialah perempuan yang apabila ditatap oleh pengembara yang kehausan maka hilanglah hausnya. Apabila ditatap oleh pengelana yang lelah maka lenyaplah lelahnya. Apabila ditatap oleh perompak bermata api maka padamlah apinya. Apabila dipandang dari tanah yang gersang maka hijaulah rumputnya. Apabila dipandang dari bawah pohon kering maka kuncuplah pucuknya. Apabila dipandang dari sisi bunga yang layu maka merekalah bunganya. Bagi lelaki sukku pappoji itu, hanya ada Andi Inre. Hanya Inre.





Air mengalir dari matanya bersumber dari Andi Inre. Perempuan yang sepuluh tahun lalu telah mewujud dihatinya. Perempuan yang telah memberinya kesejukan danau, kelembutan mega, kesegaran embun, keharuman bunga. Perempuan yang telah menjinakkan api perompaknya, perempuan yang telah menambatkan perahu kembaranya, perempuan yang telah menghentikan langkah kafilahnya. Perempuan yang telah memabukkannya.

Tapi air mengalir dari mata Lelaki itu bersumber dari Andi Inre. Perempuan yang kini berjalan lalu lalang di rumah sakit Dadi Makassar. Perempuan yang ia rawat sebagai pasien. Karena lelaki yang sepuluh tahun lalu itu kini telah menjadi psikiater.




Ah. Lelaki Mimit mendesah. Badai dalam dadanya mulai reda. Seiring berita sunami yang mulai berlalu. Tapi air mata yang mengalir itu adalah air mata lelaki. Karena lelaki memang boleh menangis !





Makassar, 21 Mei 2005